Kasus Merebak, WHO Ubah Nama Cacar Monyet untuk Hindari Stigma

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengganti nama cacar monyet agar tidak terjadi stigmatisasi. Sementara, saat ini kasus cacar monyet semakin merebak.

Kasus Merebak, WHO Ubah Nama Cacar Monyet untuk Hindari Stigma
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus (Sumber: Twitter/WHO)

BOXALTER.COM - Atas kesepakatan para ilmuwan dan ahli, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengganti nama cacar monyet agar tidak terjadi stigmatisasi. Kini, cacar monyet disebut dengan nama Clade dan dibagi berdasarkan daerah penemuannya. 

Menurut Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam pertemuan para ahli, disepakati untuk mengganti nama Cekungan Kongo atau clade Afrika Tengah menjadi clade I. Sementara, clade yang berasal dari Afrika Barat sekarang disebut clade II.

Pengumuman itu datang ketika WHO mempertimbangkan mengubah nama virus untuk mencegah pelanggaran atau kerusakan pada budaya, nasional atau demografi. Termasuk pada hewan.

Mekanisme penamaan akan diterapkan ke semua clades di masa depan, katanya. "Pekerjaan untuk mengganti nama penyakit dan virus sedang berlangsung," katanya seperti dikutip dari upi.com.

Kasus Melonjak

Sementara, saat ini kasus cacar monyet melonjak lebih dari 20 persen di seluruh dunia pada pekan lalu. Dilaporkan, lebih dari 35.000 kasus dilaporkan secara global. Kasus itu sebagian besar terjadi di Eropa dan Amerika. 

dari 35.000 kasus tersebut, ada 12 kematian telah dilaporkan terjadi akibat cacar monyet. Tedros menyebut, sebagian besar kasus terus terjadi pada pria yang berhubungan seks dengan pria lain. 

BACA JUGA: Arti Kata Lesi, Gejala yang Muncul Pada Pasien Cacar Monyet

Tedros juga menekankan pentingnya memastikan pasokan vaksin cacar monyet tersedia secara luas. Dia menyebut, WHO khawatir terjadi ketidakadilan akses pada vaksin cacar monyet ini. Terutama untuk wilayah termiskin dan tertinggal. Dia merujuk pada kasus vaksin Covid-19 lalu.

Tedros menekankan, vaksin dapat mengurangi risiko paparan dan menurunkan risiko infeksi parah. 

Sementara, Dr. Rosamund Lewis, pimpinan teknis cacar monyet WHO menegaskan bahwa vaksin merupakan tindakan pencegahan yang diperlukan Meskipun tidak 100 persen efektif.

"Orang-orang memang perlu menunggu sampai vaksin dapat menghasilkan respon imun yang maksimal, tapi kami belum tahu bagaimana efektivitasnya secara keseluruhan," kata Lewis. (*)